Sebuah cerita tentang keteguhan
By mr.bedel
MANISNYA BUAH KESABARAN

Alkisah di zaman dahulu hiduplah dua orang pemuda, Mahsan dan Sammi. Walaupun keduanya bersaudara sifat dan sikap jauh berbeda. Mahsan aadalah seorang yang rajin dan selalu berpikiran positif. Sedangkan Sammi sebaliknya, ia malas dan selalu pesimis.
Mungkin karena itu pula prinsip hidup mereka berbeda. Sejak kecil Mahsan menganggap pendidikan itu adalah suatu hal yang penting dan tidak boleh ditinggalkan. Sedangkan bagi Sammi, sekolah itu hanya tempat bermain saja. Kalau ditanya bagaimana dengan masa depanmu ia pasti menjawab dengan santai” Bapakku kan kaya”
Orangtua mereka memang kaya, konon kekayaannya hampir sama dengan raja waktu itu. Bahkan waktu beliau mangkat pun, harta warisannya masih dapat digunakan untuk membeli satu desa beserta isinya.
Warisan yang melimpah itu digunakan oleh Mahsan dan Sammi dengan cara yang berbeda. Bagi Mahsan yang lebih mengutamakan pendidikan, sebagian besar uang ia gunakan untuk membiayai sekolahnya. Sedangkan bagi Sammi yang senang dengan pesta pora uangnya dihabiskan untuk perayaan dan membeli barang-barang antik.
Gaya hidup kedua bersaudara itu bagaikan langit dan bumi. Sammi hidup mewah dan makmur di sebuah rumah besar layaknya raja di Kraton, sedangkan saudaranya Mahsan hidup sederhana di sebuah gubuk kecil.
Sammi sering sengaja lewat di depan rumah saudaranya untuk sekedar mengejek. Seperti hari ini ia datang sambil membawa makanan mewah. “hei lihat saudaraku, aku membawakanmu makanan yang lezat” ujarnya dengan nada mengejek.”kamu harus menerimanya, aku tahu kamu tidak pernah makan makanan lezat”
Mahsan hanya tersenyum. mendengarnya
“Oh iya saudaraku, ngomong-ngomong kemana uang warisan bagianmu ? kok sepertinya tidak ada yang baru di rumah ini?” tanya Sammi.
“aku gunakan untuk membiayai sekolahku” jawabnya santai
“Sekolah ?, coba lihat apa yang kau dapat dari sekolah?”
Mahsan tetap tersenyum tidak menanggapi.
Karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Mahsan Sammi akhirnya bosan. “Ya sudah, toh semua itu uangmu, aku tak punya urusan dengannya , kalau begitu aku pulang dulu”
Entah sudah berapa kali Sammi melakukan itu. Tapi Mahsan tetap tenang tidak menganggapinya
Waktu pun terus berlalu, Hingga pada suatu hari, tiba-tiba terjadi bencana alam, banjir datang entah darimana asalnya, banjir itu sungguh besar dan deras. Banyak sekali bangunan desa yang rusak, tak terkecuali rumah Sammi, seluruh harta bendanya hanyut tanpa sisa terbawa air, beruntung ia dan keluarganya sempat menyelamatkan diri.
Kini setelah banjir tak ada lagi perbedaan status, tak ada lagi orang kaya, pejabat atau bangsawan di desa itu, kini semuanya sama, miskin. Sammi yang dulu hidupnya bak raja pun kini harus berjuang hidup seperti gelandangan.
Karena kondisi desa yang sudah tidak memungkinkan.Mahsan dan beberapa orang mencoba peruntungan di luar desa. Sammi menolak ketika Mahsan mengajaknya, “Ah, apa gunanya kita pergi, toh pada akhirnya kita akan tetap miskin” tolaknya.
Minggu berubah menjadi bulan, bulan berubah menjadi tahun namun tetap tak ada kabar dari Mahsan dan orang-orang yang pergi keluar Desa.
Setelah miskin, gaya hidup Sammi berubah total. Ia kini sadar betapa bodohnya ia dulu ketika menghabiskan seluruh hartanya hanya untuk kesenangan sesaat. Sammi sendiri kini bekerja sebagai petani. Ia beruntung, sebelum pergi Mahsan memberinya sepetak tanah yang di beli dari sisa biaya sekolahnya
Suatu hari terdengar kabar akan ada utusan Raja yang akan berkunjung ke desa. Warga pun sibuk mempersiapkan upacara penyambutan. Siapa tahu nanti pejabat itu berkenan memberikan sumbangan untuk desa itu.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu itupun tiba. Iring-iringan kereta kuda memenuhi jalan desa. Ratusan pengawal mengelilingi sebuah kereta berwarna keemasan yang indah. Rupanya pejabat itu ada didalam sana pikir warga.
Sammi terkejut setengah mati, ketika kereta keemasan itu berhenti di gubuk milik Mahsan yang kini menjadi tempat tinggalnya.
Pintu Kereta itu terbuka, dari dalamnya muncul seorang pria tampan yang mengenakan pakaian emas seperti pakaian milik raja. Pria itu bak Dewa karena semua mata tertuju padanya. Pria itu kemudian berjalan ke arah gubuk kecil itu. Ia memandang sekeliling gubuk itu, “siapa yang tinggal disini ?” tanyanya bersahaja
Sammi yang berada tak jauh dari situ ketakutan,
Karena tak ada yang menjawab, pengawal yang tampangnya seram membentak “Hei kenapa kalian tidak menjawab pertanyaan Paduka?”
Sammi bertambah ketakutan
“Awas kalo sampai tidak ada yang mengaku, gubuk ini akan kami bakar!” ancamnya
Setelah mendengar ancaman itu Sammi akhirnya maju. “S..saya tuan” ujarnya ketakutan
Pengawal bertampang seram itu hendak memukul Sammi namun dihentikan oleh sang pejabat.
“Siapa namamu ?” tanya pria itu
“S….sammi, tuan” jawabnya sambil menunduk
“Sammi ? kamu benar sammi ?” tanya pria itu tak percaya
Sammi mengangguk gemetar, ia tidak berani mengangkat kepalanya
“Hei saudaraku, ini aku ! masa kau tidak ingat” pria itu berteriak
Sammi terkejut, ia memberanikan diri mengangkat kepalanya. Ia takjub ternyata yang berdiri di depannya itu adalah Mahsan saudaranya. “M….mahsan? ini benar kamu?” kali ini Sammi yang tidak percaya.
“Benar saudaraku, ini aku, aku sekarang diangkat oleh raja sebagai salah satu mentri” ujar Mahsan meyakinkan
Sammi memeluk saudaranya, “maafkan aku, maafkan aku”ujarnya menyesal
Mahsan tersenyum,” tenang saudaraku tak ada yang perlu dimaafkan karena aku tak pernah tersinggung denganmu” hiburnya. “aku datang kesini membawa berita kabar berita untuk kampung ini” teriaknya lantang
Orang-orang yang tadinya hanya merunduk, kini memberanikan diri mengangkat kepala.
“Raja bersedia membantu membangun desa ini kembali” sambung Mahsan
“Hore…!” teriak warga serempak. “Hidup Mahsan…! Hidup Mahsan…!”
Mahsan kemudian merangkul saudaranya, “bagaimana ? sekarang kau mau kan sekolah lagi?”
Sammi mengangguk dengan malu, “iya, aku mau”
“Ha….ha…ha…” Mereka berdua akhirnya tertawa
“Ilmu itu lebih berharga dari harta”
Related Articles
No user responded in this post
Leave A Reply
Please Note: Comment moderation maybe active so there is no need to resubmit your comments